Kamis, 23 Februari 2012

Makalah tentang Sifat-sifat Manusia



BAB I
SIFAT – SIFAT UMUM AKTIVITAS MANUSIA


Sifat-sifat  yang umum aktivitas manusia, ditinjau secara psikologis. Para anak didik beraktivitas dalam cara-cara yang seperti dilakukan oleh manusia-manusia lain pada umumnya. Mereka memperhatikan, mengerti, mengamati, mengingat, berkhayal, berpikir, dan sebagainya seperti manusia-manusia lain pada umumnya. Hukum-hukum psikologis yang mendasari aktivitas yang demikian adalah hukum-hukum psikologis yang  bersifat umum. Untuk dapat memahami para anak didik itu pendidikan harus mempunyai bekal pengetahuan psikologis yang bersifat umum, yaitu pengetahuan mengenai hukum-hukum psikologis yang mendasari aktivitas manusia pada umumnya.
  1. Perhatian
Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Alangkah baiknya kalau tiap-tiap pelajaran dapat diterima oleh murid-murid dengan perhatian yang cukup intensif.
  1. Pengamatan
Manusia mengenal dunia wadag dan dunia riil, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau atau mencecap. Cara mengenal obyek demikian itu disebut mengamati.
  1. Tanggapan dan Variasinya
Tanggapan memainkan peranan penting dalam belajarnya atau perkembangannya anak didik. Karena seyogyanyalah tanggapan tersebut dikembangkan. Sebagai fungsi yang bahannyadi asalkan dari fungsi lain maka macam tanggapan sering pula digolong-golongkan menurut fungsi yang mendasarinya. Berhubungan dengan itu maka manusia digolongkan kedalam tipe-tipe :
a.       Visual
b.      Auditif
c.       Taktil
d.      Gustatif dan
e.       Olfaktoris
  1. Fantasi
Mengingat kesannya faedah fantasi bagi kehidupan manusia sehari-hari, maka haruslah fantasi di perkembangkan. Di sekolah, pada tiap pelajaran terkandung kemungkinan yang cukup luas untuk mengembangkan fantasi itu, terutama mata pelajaran ekspresi.
  1. Ingatan
Penyelidikan psikologis tentang ingatan telah cukup banyak dilakukan oleh para ahli dan hasilnya banyak yang langsung bersangkut paut dengan soal belajar dalam membimbing perkembangan anak didik seyogyanya hasil-hasil yang telah dikemukakan dipergunakan sebaik-baiknya. Pada waktu menghafal hendaklah kondisi-kondisi diatur sedemikian rupa sehingga dapat dicapai hasil yang maksimal seperti menyuarakan, pembagian waktu yang tepat, pemilian teknik-teknik yang tepat dan sebagainya.
  1. Berfikir
Jauh dari pada sikap ingin mengagung-agungkan akal/fikir, kiranya dapat diterima bahwa fikiran mempunyai kedudukan yang boleh dikata menentukan. Karena itulah kewajiban kita para pendidik di samping mengembangkan aspek-aspek lain dari pada anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi pengembangan fikir itu.
  1. Perasaan
Perasaan melatar belakangi dan mendasari aktivitas-aktivitas manusia. Karena itu dalam memberikan pendidikan seharusnya diusahakan adanya perasaan yang dapat membantu pelaksanaan usaha yang dilakukan itu. Umumnya diketahui, bahwa kegembiraan bersifat menggiatkan, kekecewaan melembekkan. Karena itu alangkah baiknya kalau pendidik dan pengajaran yang kita berikan dapat diterima oleh anak-anak didika kita dalam suasana gembira.
  1. Motif-motif
Aktivitas yang didorong oleh motif-motif intrinsik ternyata lebih sukses dari pada yang didorong oleh motif ekstrinsik, karena itu alangkah baiknya kalau dapat ditimbulkan seluas mungkin motif intrinsik itu pada anak didik kita.


BAB II
SIFAT – SIFAT KHAS KEPRIBADIAN MANUSIA


            Di samping aktivitas-aktivitas yang bersifat umum, pada para anak didik didapatkan sifat-sifat individual yang khas. Misalnya ada anak yang sudah cukup diisyarati saja untuk menghentikan perbuatannya yang kurang layak, ada yang perlu di tegur, bahkan ada pula yang tidak cukup dengan tegur dan membodohkan tindakan lain yang lebih keras ( misalnya dipindahkan tempat duduknya di dekat guru ). Ada anak yang mudah bergaul sebaliknya ada yang sukar sekali mendapatkan teman, ada anak yang sangat setia kepada teman-temannya, ada anak yang suka membeo, ada yang suka berpedoman kepada pendapat sendiri, ada anak yang suka kepada soal-soal politik, ada yang suka kepada soal-soal kesenian, yang lain lagi lebih suka kepada soal-soal kemasyarakatan dan keagamaan dan sebagainya. Pendek kata kepribadian anak didik itu berlainan satu sama lain dan demi suksesnya usaha pendidik hal ini harus di kenal oleh pendidik. Pendidik perlu mengenal bagaimana struktur kepribadian anak didiknya bagaimana dinamikanya, dan bagaimana kepribadian yang demikian itu terbentuk. Disamping itu pengetahuan mengenai tipe-tipe kepribadian anak didik adalah sangatlah berguna dipandang dari segi praktis.
            Satu hal lagi yang kiranya sangat penting untuk dikemukakan, terutama dilihat dari sudut pandangan, operasional, adalah mengenai bagaimana caranya kita mengungkap kepribadian manusia itu. Cara umum dapat dikatakan bahwa semua metode psikologis dapat digunakan. Allport, seorang ahli dalam lapangan psikologi kepribadian yang kenamaan. Macam-macam metode itu dalam 13 kelompok :
  1. Studies of Cultural Setting
  2. Physical Records
  3. Social Records
  4. Personal Records
  5. Expressive Movement
  6. Rattings
  7. Standardized Tests
  8. Miniatur Life Situations
  9. Statistical Analysis
  10. Laboratory Experiment
  11. Depth Analysis
  12. Ideal Types
  13. Synthetic Methods


BAB III
SIFAT – SIFAT INDIVIDU YANG LAIN :
MASALAH INTELIGENSI


            Selain ditemukan perbedaan antara individu yang satu dan individu yang lain dalam hal kepribadian mereka masih ditemukan adanya sifat-sifat individual yang lain yang khas. Salah satu sifat yang besar peranannya dalam proses pendidikan adalah sifat yang khas yang berasal dari inteligensi. Misalnya ada anak yang cepat menangkap inti persoalan yang di hadapi, ada yang tidak, ada yang dapat mengingat banyak sekali hal, ada yang tidak. Perbedaan dalam inteligensi mengakibatkan adalanya perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perlu sekali para pendidik memiliki pengetahuan yang memadai mengenai hal ini, dan mengamalkannya sejauh mungkin. Apa lagi telah terbukti terutama ketika anak-anak masih sangat muda, intelegensi yang dapat dipakai salah satu petunjuk yang penting untuk meramalkan bagaimanakah kiranya hasil study mereka kemudian.


BAB IV
PERBEDAAN-PERBEDAAN DALAM BAKAT


Masih ada satu sifat khas lagi pada individu yang besar peranannya terutama pendidikan di atas tingkat pendidikan dasar dan juga pada pendidikan kejuruan dan pendidikan orang dewasa. Telah diakui bahwa antara individu yang satu dengan individu yang lain terdapat perbedaan dalam bakat. Suatu hal yang dianggap self-evident adalah bahwa anak didik akan lebih berhasil belajar kalau mereka belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakat mereka. Dan selanjutnya juga orang akan lebih berhasil dalam bekerja kalau orang tersebut bekerjanya pada lapangan yang sesuai dengan bakatnya. Adalah satu hal yang sangat ideal kalau kita dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan bakat para anak didik. Dari penalaran ini nyata bahwa adalah suatu keharusan kalau pendidik mengenal bakat para anak didiknya.


BAB V
PERKEMBANGAN INDIVIDU

Dalam menghadapi anak yang sedang mengalami masa Trotz ini sikap yang paling bijaksana adalah jalan setengah, artinya bukan sikap yang ekstrim, baik ekstrim menekan maupun ekstrim memanjakan.
Jika sekiranya pendidik memaksakan pendiriannya sendiri dengan memakai kekerasan dan kekuasaan oleh sebab dia lebih kuat, maka anak itu akan mengalah dan tunduk kepada pendapat orang dewasa, sedang kemauannya sendiri lenyap tak berkembang. Anak yang demikian itu nantinya tak akan punya inisiatif, tanpa kemampuan.
Sebaliknya jika anak itu diturut saja apa kehendaknya, atau dibiarkan saja berbuat sekehendaknya, dengan maksud untuk menghindarkan persengketaan antara dia dan orang dewasa, maka ini hanya merupakan pengunduran saja dari pada sengketa itu, yang kelak akan timbul lagi dengan lebih hebat. Sebab bagaimanapun juga anak harus belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku, dia harus belajar memberi, tidak hanya menerima saja, sebab dalam kehidupan bersama itulah yang terjadi yaitu take and give.
Dipandang dari segi pendidikan masa negatif adalah masa yang sukar karena :
a.       Dengan meninggalkan dunia serta pedoman-pedoman yang lama, sedangkan belum mendapatkan pedoman-pedoman baru akan menyebabkan anak mudah terkena pengaruh yang tidak baik.
b.      Dengan sikap sosialnya yang negatif maka si remaja itu sukar didekati.



BAB VI
PERUBAHAN INDIVIDU KARENA BELAJAR


Pada permulaan tulisan ini telah dikemukakan, bahwa masalah mendidik adalah masalah setiap orang, karena setiap orang sejak dahulu hingga sekarang, berusaha mendidik anak-anaknya dan atau anak-anak lain yang diserahkan kepadanya untuk dididik. Demikian pula masalah belajar dan mengajar yang dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha pendidikan, adalah masalah setiap orang. Tiap orang boleh dikatakan selalu belajar dan juga dalam arti tertentu mengajar, misalnya guru mengajar murid-muridnya, pelatih mengajar para olahragawan, ibu rumah tangga mengajar pembantu rumah tangga dan sebagainya.
Proses belajar dipengaruhi oleh banyak sekali faktor-faktor. Pendidik harus mengatur faktor-faktor tersebut supaya berpengaruh menguntungkan bagi belajarnya anak didik, motif boleh dikata merupakan faktor yang menentukan dalam belajar, menentukan berhasil atau tidaknya usaha belajar. Karena itu pendidik harus berusaha mempergunakan faktor ini sebaik-baiknya. Karena taraf aspirasi para anak didik itu bermacam-macam, maka seberapa mungkin pendidik harus mengenal taraf aspirasi mereka ini, dan bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut. Dimana perlu anak didik perlu dibuatkan tujuan sementara yang dekat untuk memberi arah kepada usaha mereka dalam belajar. Berdasar atas pendirian eklektik hendaklah digunakan hukum-hukum belajar setepat mungkin supaya usaha belajar lebih efektif.


BAB VII
PENILAIAN HASIL-HASIL PENDIDIKAN



Sejak manusia melakukan usaha mendidik anak-anaknya pastilah mereka telah pula melakukan usaha menilai hasil-hasil usaha mereka dalam mendidik anak-anak mereka itu, kendati pun dalam bentuk dan cara yang sangat sederhana sekali. Memang tindakan tersebut adalah wajar dan tidak dapat, tidak pasti dijalankan, karena sebenarnya penilaian hasil-hasil pendidikan itu tak dapat dipisahkan dari usaha pendidikan itu sendiri, penilaian merupakan salah satu aspek yang hakiki dari pada usaha itu sendiri.
Pendidikan adalah usaha manusia (pendidik) untuk dengan penuh tanggung jawab membimbing anak-anak didik ke kedewasaan. Sebagai sesuatu usaha yang mempunyai tujuan atau cita-cita tertentu sudah sewarjarnya bila secara implisit telah mengandung masalah penilaian terhadap hasil usaha tersebut. Sebab tiap-tiap kali orang butuh mengetahui sampai sejauh manakah tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai itu terwujud atau terlaksana dalam usaha-usaha yang telah dijalankan.
Adapun caranya orang melakukan penilaian tersebut bermacam-macam sekali, ada yang dengan jalan testing, ada yang dengan jalan menyuruh melakukan suatu tugas tertentu, ada yang dengan jalan menanyakan berbagai hal, ada yang dengan jalan menyuruh membuat karangan, ada yang dengan jalan menyuruh memproduksikan hal-hal yang telah diterima sebagai pelajaran. Akan tetapi cara yang paling umum ialah dengan jalan menguji anak didik atau calan tersebut. Berbagai cara yang telah disebutkan di atas itu pada hakekatnya adalah bentuk-bentuk khusus ujian itu.
Selanjutnya berdasarkan atas hasil-hasil ujian tersebut si penilai berusaha menentukan sampai sejauh manakah kiranya anak didik itu maju ke arah tujuan yang harus dicapainya dan berdasarkan hal ini selanjutnya penilai menentukan apakah anak didik tersebut cukup memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dimasukkan ke dalam kategori tertentu. 




2 komentar: